Postingan

Oma Tak Perlu Mengatakannya

Oma menoleh. Mata tuanya membuka. “Kau tidak bisa tidur, Tegar?” Aku menggeleng. Memegang belakang kursi Oma, menggerakkannya pelan, membuat Oma nyaman di atasnya. “Seharusnya kau tidur. Bukankah besok pagi-pagi sekali kau berangkat ke Jakarta?” Aku mengangguk. Suara air menerpa atap resor terdengar berirama. Akan amat menyenangkan tidur dengan nina-bobo suara air hujan. “Aku senang. Akhirnya setelah dua tahun yang sia-sia kau memilih melakukan hal yang benar.” Suara tua Oma terdengar bergetar. “Anak-anak tidak senang dengan kabar itu.” “Anak-anak akan baik-baik saja. Mereka akan terbiasa dengan kepergian kau. Mereka memiliki ibunya sekarang.” “Rosie juga tidak senang dengan kabar itu.” Entah mengapa aku mengucapkan kalimat itu, terucap begitu saja.

Tentang Kamu

Thomson & CO. Thomson & Co., adalah salah satu firma hukum berkelas dan bergengsi di kota London. Firma hukum yang dibangun dan dibesarkan oleh generasi Thomson – sekeluarga. Berbeda dengan firma hukum kebanyakan, Thomson & CO., hanya memiliki enam orang associate saja. Thomson & CO., baru akan merekrut anggota kembali jika salah satu dari keenam anggota tersebut berhenti bekerja, dengan alasan seperti meninggal, mengundurkan diri, atau terpaksa berhenti. Bayangkan saja, betapa sulitnya untuk bisa menduduki salah satu kursi di firma keluarga Thomson tersebut. Thomson & CO., begitu selektif dan tidak main-main dalam merekrut anggota untuk bergabung, karena mereka menyadari tugas firma hukum sangatlah penting, dan harus diisi oleh manusia yang benar-benar jujur dan bertanggung jawab, mengingat tugas mereka tidaklah sederhana. Yaps, cerita dalam novel ini menyangkut perihal hukum, hanya soalan mencari pewaris harta warisan wanita tua. Tapi bang Tere tetap memberi p...

Spiritualitas dan Religiusitas

Untuk lebih mudah memahami tentang spiritualitas, perlu juga diuraikan tentang hubungannya dengan religiusitas. Ini penting, karena belakangan ini berkembang paham yang menganggap spiritualitas lebih penting dari pada agama. Pandangan ini berkembang sejak John Naisbitt dan Aburdence, dua futurolog kenamaan mengeluarkan semboyan yang berbunyi: “ Spirituality, Yes, Organized Religion, NO ”. Menurut estimasi Naisbitt dan Aburdence, masyarakat di masa depan akan mengabaikan agama dan lebih mendalami spiritualitas. Karena itu, perbedaan keduanya akan semakin tajam, meskipun spiritualitas dan religiusitas sama-sama berkaitan dengan kebutuhan paling mendasar.

Dimensi Spiritual

Meskipun para peneliti tentang spiritual yang sehat mencatat bahwa spiritual harus dipahami dalam multidimensional, namun Ingersoll (Desmita, 2012:275) “menggambarkan spiritualitas dalam tujuh dimensi, yaitu makna ( meaning ), konsep tentang ketuhanan ( conception of divinit y), hubungan (relationship ), misteri ( mystery ), pengalaman ( experience ), perbuatan atau permainan ( play ), dan integrasi ( integration )”. Meaning , atau makna merupakan dimensi terpenting dari spiritualitas. Meskipun makna tidak mungkin digambarkan dalam cara-cara umum, namun ia dapat dipahami sebagai sesuatu yang dialami individu yang membuat kehidupannya lebih bernilai atau berharga. Manusia mengisi hidupnya bukan untuk suatu tujuan yang sia-sia. Sasaran merupakan wujud kriterium yang ingin dan akan dicapai seseorang. Ia dapat bermakna, tapi juga berpeluang untuk menjadi tanpa makna. Bila ia bermakna, maka secara psikologis sasaran ini memberi kepuasan bagi seseorang, begitu pula sebaliknya.

Karakteristik Perkembangan Spiritual Peserta Didik

Teori perkembangan Spiritual Fowler Teori perkembangan spiritual Fowler merupakan salah satu teori yang banyak dijadikan acuan dalam mempelajari perkembangan kehidupan spiritual atau agama, yang dikenal dengan stage of faith development dari James Fowler. Fowler adalah perintis teori mengenai tahap perkembangan kepercayaan yang dimaksudkan untuk menunjukkan penelitian empiris dan refleksi teoritis, yang telah diakui secara internasional sebagai psikolog agama yang sangat penting.

Implikasi Perkembangan Spiritual Terhadap Pendidikan

Sekolah sebagai lembaga pendidikan dituntut untuk membantu siswa dalam mengembangkan spiritual mereka, sehingga mereka dapat menjadi manusia yang religius dan moralitas dalam kehidupan bermasyarakat. Dengan itu pendidikan harus menjadikan sekolah sebagai wahana yang kondusif bagi siswa untuk menghayati agamanya, tidak hanya sekedar bersifat teoritis, tetapi penghayatan yang benar-benar dikontruksi dari pengalaman keberagamaan.

Catatan Skripsi

Hal yang paling menyenangkan saat mengerjakan skripsi adalah, kau bisa bermain-main dengan segala imajinasi penalaranmu. Tapi, kau harus tetap menjunjung keabsahan yang sebenarnya. Maka dari itu, kamu harus bisa berdiri sendiri dengan benar-benar mengerti apa yang sedang dikerjakan. Dengan kata lain, kamu harus punya pendirian diantara banyaknya pesona-pesona yang berceceran. Skripsi menuntut diri untuk lebih percaya pada kemampuannya, skripsi membuatmu harus bisa menaikkan kadar level kepercayaan diri sendiri dalam menciptakan sesuatu yang pasti dirasa benar dan bisa dipertanggung jawabkan, dengan alasan-alasan yang memiliki sumber kredibel untuk tanggung jawab itu. Karena nantinya, tidak menutup kemungkinan kau akan diuji dalam bentuk pertanggung jawaban dengan sebuah tanya sederhana, "mengapa?"