Azab dan Sengsara

"Anggiku Mariamin yang amat kucinta !

Sebelum kakanda menceritakan sebabnya kakanda berkirim surat ini, lebih dahulu kakanda meminta doa kepada Allah, supaya Ia memberi adinda kekuatan akan menahan kabar yang akan kuberikan ini kepada adinda.

Riam, berat yang kupikul, ngeri perasaanku sampai pada waktu menulis surat ini. Hatiku remuk-redam.

Engkau pun tentu demikian. Sebab itu kumpulkanlah tenagamu, pikul lah bebanmu dengan hati yang sabar sebagai aku.

Anggi Riam, kekasihku tiada berkurang akan dikau. Percayalah, engkau tak kulupakan dari dahulu sampai sekarang, ya, sehingga matiku. Aku pun percaya, adinda kasih juga akan kakanda, sebab itu lebih dahulu aku minta ampun, dan keampunan itu harap aku peroleh, sebab Riam kasih kepada kakanda anak yang terbuang di rantau ini.

 

Catatan dua enam, lulus sekolah magister

Tidak ada yang benar-benar pergi dari hati. Setiap kita hanya beranjak dari persinggahan yang lalu menuju persinggahan yang baru. Mengajarkan bahwa hidup sejatinya adalah sebuah perjalanan pada persinggahan-persinggahan yang diizinkan-Nya. Hari ini, setelah melewati badai yang panjang, lega di hati mulai menemukan damainya. Tidak lagi gegabah atas gemuruh-emosional. Menjadi lebih legowo atas segala hal yang terjadi, semisal melepas apa yang dirasa sulit digapai genggaman.

Setelah lulus sekolah magister, rasanya chapter baru perjalanan perlu diperhatikan lagi. Setelah lulus sekolah magister, diri berhak berada di atas anak tangga yang lebih tinggi dari sebelumnya. Bahwa hidup adalah perjalanan, bukan begitu?

Sebagai anak pertama, tentunya terlahir dengan emosi dan egois diri yang pekat: sebab kami anak pertama diberi hak untuk menjadi egois lebih dari siapapun. Tanpa pesaing dan tanpa ada yang berani menghalangi ambisi. Saya menyadari egois ini akan terus tumbuh diri dalam diri dan sulit dihentikan jika tekad-ambisi telah mengikat. Jika sudah yakin, tepis segala ragu. Pilih lah berada bersama telinga-telinga yang akan terus mendukungmu atas apapun yang menjadi keputusanmu sekalipun itu adalah hal gila yang tidak akan dilakukan banyak orang.
 

The Guest House

This being human is a guest house

Every morning a new arrival

A joy, a depression, a meanness some momentary awareness comes As an unexpected visitor

Welcome and entertain them all! Even if they’re a crowd of sorrows who violently sweep your house empty of its furniture Still treat each guest honorably He may be clearing you out for some new delight

The dark thought, the shame, the malice, meet them at the door laughing and invite them in

Be grateful for whoever comes, because each has been sent as a guide from beyond. 

          — Jalaluddin Rumi